KARAWANG, TAKtik – Cukup mengejutkan ketika ada salah satu organisasi sosial di Jawa Barat menyebutkan bahwa pihaknya tidak menemukan data terkait kondisi banjir di Karangligar dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).
Hanya tidak disebutkan, apakah yang dimaksudkannya itu adalah BPBD Karawang atau Jawa Barat. Pihak BPBD Karawang sendiri membantah jika pihaknya tidak menerbitkan data tersebut, bahkan selalu meng-update setiap perkembangannya yang mudah diakses publik.
“Kami juga share setiap update data bencana di Karawang, apalagi kondisi banjir Karangligar ke semua rekan-rekan media. Jadi bukan hanya di medsos,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Karawang Usep Supriadi, Minggu siang (22/2/2026).
Tidak hanya itu, Usep pun menyatakan bahwa pihaknya sudah mengirimkan logistik buat kebutuhan warga terdampak banjir Karangligar yang dititipkan ke pemerintahan desa setempat dan diterima langsung oleh kadesnya.
Logistik itu, sebut Usep, berupa mie instan cup 15 (buah), air mineral 15, ropang roti, makanan tambahan bayi 5, biskuit regal 1, minyak goreng 1 dus, susu kental manis 1 dus serta super bubur 1 dus. Selain itu, pihaknya telah memberikan 1 kwintal beras yang diambil oleh perangkat Desa Karangligar.
Semua logistik dari BPBD Karawang tersebut, aku Kepala Desa Karangligar Ersim, sudah langsung dibagikan ke pengungsi yang ada di aula desa. Namun mengenai beras bantuan, Ersim belum membagikannya dengan alasan belum cukup.
Walaupun di kalangan warga terdampak mulai banyak yang mengeluh karena mereka telah kehabisan uang untuk membeli makan buka puasa dan sahur. Sedangkan mereka mengaku belum menerima bantuan apapun, terutama dari pemerintah.
Benarkah pemerintah, terutama Pemkab Karawang dan Pemprov Jawa Barat minim perhatiannya kepada warga terdampak banjir di tengah mereka berpuasa? Atau kah karena minus data seperti dinyatakan organisasi sosial Jabar itu?
“Biasanya di bulan suci Ramadhan sering banyak pihak, tanpa terkecuali pejabat pemerintah, bikin acara bagi-bagi takjil gratis jelang buka puasa di jalanan atau tempat-tempat umum. Kenapa ya belum ada yang memilih di tempat orang mengungsi? Mungkinkah karena di kami sedang baik-baik saja?” sentil salah seorang warga terdampak banjir Karangligar Iib Nur. (tik)
