KARAWANG, TAKtik – Pergeseran tanah kembali terjadi di Leuwisisir, Desa Mekarmulya, Kecamatan Telukjambe Barat. Terdapat 2 rumah terancam ambrol tergerus oleh air Sungai Cibeet.
Area yang tak jauh dari tempat yang sebelumnya akan dijadikan TPAS (Tempat Pembuangan Akhir Sampah) dan IPLT (Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja) oleh Pemkab Karawang itu, kini bagian jalannya sudah mengalami kerusakan parah.
Tim Relawan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Telukjambe Barat, Kaming, sempat melaporkan bahwa kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan, apalagi di tengah debit air Sungai Cibeet tinggi dan arusnya deras.
Sebelumnya, titik area kolam dan tembok pembatas yang dulu mau dijadikan tempat menimbun sampah pun sudah rusak terbawa hanyut setelah terendam banjir. Kini, kerusakan di Leuwisisir makin mengancam pemukiman warga.
“Rumah terdampak dari pergeseran tanah itu sudah ada yang jebol dapurnya. Kami dari Pemerintahan Desa Mekarmulya sudah pernah memperbaiki jalan di Leuwisisir di bantaran Cibeet dengan cara dirucuk. Namun karena arus sungai itu lebih deras, ya gak kuat,” ungkap Kades Mekarmulya Dalim Rudyansah, Senin pagi (2/2/2026).
Sedangkan dampak dari banjir yang masih menggenangi Karangligar, di antaranya ada rumah warga di Dusun Pangasinan RT.04/01 milik Ibu Acih (63) terancam ambruk. Semua kayu penyangga sudah rapuh, bahkan ada yang patah. “Kalau terendam terus begini sih saya yakin rumah ini roboh,” ujar Kaji, tetangganya.
Banjir besar di Karangligar sejak 18 Januari 2026, kini baru surut di sebagian permukiman warga terdampak. Data dari pemerintahan desa setempat, dari 667 rumah yang dihuni 2.562 jiwa, 442 rumah lainnya masih terendam banjir dan 1.603 jiwa penghuninya tetap berada di pengungsian.
Sementara kondisi banjir di 15 desa dari 7 kecamatan di wilayah Kabupaten Karawang, Kepala Pelaksana BPBD Usep Supriatna menyebutkan, rumah yang masih terendam sebanyak 3.322 unit, warga yang mengungsi 3.368 jiwa. Banjir juga menggenangi 4.754 hektar sawah dan 4.079 hektar tambak. (tik)
