KARAWANG, TAKtik – Lumpuhnya aktivitas ekonomi warga terdampak banjir Karangligar selama dua pekan lebih, kini harus kembali ke nol.
Untuk mendapatkan uang kembali dalam memenuhi kebutuhan hidup, di antaranya memanfaatkan apa yang bisa dijual maupun mencari sesuatu yang ada di sekitarnya. Bagi mereka terpenting halal.
Sawah tempat mereka mencari nafkah sudah tinggal jerami busuk yang menebar bau tak sedap. Tanaman padi yang kala itu mulai berbuah hanya tinggal onggokan layu tak berharga lagi.
Seperti dilakukan Bi Sanih (40) yang tinggal di Dusun Pangasinan RT.02/01, Desa Karangligar, Kecamatan Telukjambe Barat. Ia bersama suaminya mencari ikan di Sungai Cidawolong. Ia tahu banyak ikan di empang yang kabur terbawa arus banjir.
“Terpaksa nyari ikan karena selama banjir tidak usaha (cari nafkah). Malah sawah pun gagal panen,” ungkap Bi Sanih yang katanya hari itu (Selasa, 3 Februari 2026) mendapat dua puluh bungkus paray (baby fish/anak ikan) yang dijualnya Rp 5 ribu per bungkus. Diperkirakan, jika ditimbang berat per bungkusnya sekitar seperempat kilogram.
Selain Bi Sanih, ada juga warga terdampak banjir Karangligar yang rumahnya baru bisa ditinggali lagi setelah terendam dengan mengumpulkan rongsokan (barang-barang rusak atau bekas).
Barang-barang tersebut, selain milik pribadinya yang rusak terendam banjir, didapatkannya pula dari tetangganya. Lalu dibersihkan dan dikeringkannya sebelum dijual.
“Ya karena sawah gak bisa dipanen, dagang pun modal habis buat kebutuhan sehari-hari selama di pengungsian. Ya coba jual rongsokan aja sebelum dapat buat modal dagang lagi,” ujarnya sambil meminta identitasnya tidak dipublish dengan alasan malu.
Kini, banjir Karangligar terus menyusut. Rumah warga yang terendam tinggal 220 unit dari sebelumnya mencapai 667 unit. Sedangkan fasilitas umum yang belum surut adalah SMPN 1 Telukjambe Barat di Dusun Pangasinan selain musholla dan Masjid Arrohman di Dusun Kampek.
Ketinggian air, berdasar data dari Pemerintahan Desa Karangligar, masih ada yang cukup tinggi antara 1 hingga 2 meter. Dampak dari banjir besar di sini terdapat kerusakan tanggul sekunder makin parah, banyak yang jebol. (tik)
