KARAWANG, TAKtik – Kalau Karawang ingin tetap menjadi salah satu lumbung pangan Jawa Barat, maka persoalan air harus menjadi prioritas.
Hal itu diingatkan anggota DPRD Jawa Barat Budiwanto merespon problem klasik di Kabupaten Karawang. Yaitu, area pertanian yang kerap kekeringan di musim kemarau. Sebaliknya, terendam banjir saat musim penghujan.
“Menghadapi problem klasik ini jangan hanya menghitung berapa banyak air yang ada di waduk, tetapi berapa banyak air yang benar-benar sampai ke akar tanaman petani,” seru Budiwanto, Minggu siang (30/8/2026).
Menurut data Perum Jasa Tirta II pada awal Agustus 2026, kutif Budiwanto, volume efektif Waduk Jatiluhur masih sekitar 857,10 juta meter kubik. Begitu pun PJT II memperkirakan ketersediaan air masih mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir Desember 2026.
“Bila air masih tersedia tetapi sawah tetap kekeringan, harus dicari titik persoalannya. Apakah di saluran primer, sekunder, tersier, sedimentasi, kebocoran, pembagian air atau persoalan teknis lainnya,” tanya Budiwanto.
Normalisasi saluran Sekunder Pakis sepanjang sekitar 1,2 kilometer yang telah dilakukan pemerintah melalui BBWS Citarium, menurut Budiwanto, langkah tersebut perlu diperluas menjadi evaluasi menyeluruh terhadap jaringan irigasi Karawang.
“Jangan hanya memperbaiki saluran ketika sudah terjadi kekeringan. Harus ada audit dan pemetaan jaringan irigasi secara menyeluruh, terutama titik-titik yang selama ini menjadi langganan kekeringan,” kata Budiwanto.
Selain itu, sambungnya, pemerintah juga harus mengubah pendekatan pengelolaan air. Air pada musim hujan tidak boleh hanya dipandang sebagai ancaman banjir, tetapi juga sebagai sumber cadangan untuk menghadapi musim kemarau.
“Setiap musim penghujan kita sibuk membuang air karena banjir. Lalu, beberapa bulan berikutnya petani justru mencari air. Ini menunjukkan perlunya water management sepanjang tahun,” sentil Budiwanto.
Kesimpulan dia, persoalan Karawang bukan semata-mata kekurangan sumber air, tetapi menyangkut pula tata kelola dan distribusi air dari hulu hingga ke lahan pertanian. “Bagaimana air yang tersedia bisa kita kelola dan distribusikan agar cukup untuk pertanian sepanjang tahun,” tandasnya.
Kabar mengenai kekeringan yang kembali melanda area pertanian di daerah ini, seperti diberitakan beberapa media di Karawang, termasuk keluhan petani via medsos, TAKtik sendiri belum mendapatkan data riil dari DPKPP (Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan) setempat.
DikonfirmasI kepada kepala dinasnya itu, Rohman mengarahkan TAKtik ke Mahmud yang Kepala Bidang Sarana di OPD-nya tersebut. Namun hingga berita ini jelang tayang, Mahmud belum merespon.
Sedangkan data yang diketahui Budiwanto, kekeringan yang melanda area pertanian teknis di Karawang antara lain terjadi di Kecamatan Pakisjaya seluas kurang lebih 1.000 hektar. (tik)
