KARAWANG, TAKtik – Temuan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) mengenai pengelolaan keuangan daerah di sejumlah OPD di Pemkab Karawang bukan hal baru. Ini karena lemahnya pengawasan dari internal OPD sendiri.
Hal itu dikemukakan aktivis dari Kompak Reformasi Panjihadi Panji dalam merespon berita TAKtik terkait hal ini. “Seringkali saya mendengar temuan BPK tersebut. Bahkan saya sendiri kerap melaporkannya ke BPK. Jadi, sebenarnya tidak aneh lagi. Justru yang menjadi pertanyaan, kenapa selalu terulang,” ujarnya, Selasa siang (19/5/2026).
Karenanya, Panji yang dikenal aktivis sejuta laporan mengaku sedang mengumpulkan data terkait temuan BPK itu dan tidak tertutup kemungkinan akan membawanya ke APH (Aparat Penegak Hukum), terutama angka dugaan kelebihan bayar belanja BBM (Bahan Bakar Minyak) dan pelumas yang kabarnya di Dinas PUPR (Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang).
“Infonya kelebihan bayarnya sampai Rp 488 jutaan. Bahkan yang perjalanan dinas katanya mencapai Rp 553 jutaan. Untuk memastikan sejauhmana akurasi datanya dari informasi awal yang saya dapat, masih saya telusuri. Kalau benar demikian, apalagi bila ada unsur yang mengarah ke dugaan delik tipikornya, ya baru saya laporkan ke APH,” tegas Panji.
Begitu pun di OPD lain, Panji juga mendengar ada belanja peralatan dan mesin sebesar Rp 138 juta di DPMPD (Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa) yang turut jadi temuan BPK. Seperti apa bentuk maupun peruntukan belanjanya, sebut Panji, data dari poin ini pun termasuk yang sedang didalaminya.
“Dari informasi awal katanya ada 23 temuan BPK di sejumlah OPD di lingkungan Pemkab Karawang pada belanja tahun anggaran 2025. Temuannya seperti apa, ini yang sedang saya cari datanya. Selanjutnya dikaji, apakah ini memang keteledoran atau ada unsur kesengajaan?,” kata Panji lagi.
Jika masih bisa ditolerir, diharapkannya, temuan BPK kali ini dijadikan pelajaran berharga oleh bupati maupun sekda agar ada sikap tegas terhadap para pimpinan OPD tersebut. “Jangan sampai terulang pada tahun anggaran 2026 dan seterusnya,” tandasnya mewanti-wanti. (tik)
