KARAWANG, TAKtik – Pemkab Karawang harus serius membangun UMKM, bahkan proaktif mempromosikan pasar dari produk UMKM. Selain itu, turut menjembatani investasi bagi produk yang ternyata sudah ada di pasar ekspor.
Hal itu dikemukakan anggota DPRD Karawang H. Erick Heryawan Kusumah saat kegiatan resesnya, Sabtu, 22 Agustus 2026. Di wilayah daerah pemilihannya ini, yakni di Desa Jayamukti, Kecamatan Banyusari, terdapat komoditas sarden kemasan merek Raosna yang pasarnya sudah menembus hingga ke negara Uganda, Afrika.
Fakta lain yang diketahui Erick, produsen sarden kelas UMKM tersebut belum mampu meningkatkan produksi sesuai permintaan pasar hanya karena keterbatasan modal. “Permintaan sekitar satu kontainer per bulan menjadi kendala utama dalam memenuhi skala permintaan pasar global. Sedangkan produk ini masih dikelola industri rumahan,” ungkapnya.
Untuk membangun fasilitas pabrik pengolahan skala ekspor yang memadai, hitung-hitungan Erick, diperlukan investasi sekitar Rp 15 milyar. Namun, diakuinya, angka investasi ini cukup berat bagi pengusaha kelas rumahan maupun jika harus dibantu APBD Karawang.
“Solusi strategis yang realistis adalah membuka kran investasi dan menarik pelaku usaha swasta untuk menggarap potensi tersebut. Penggunaan APBD tidak memungkinkan untuk mendanai kegiatan bisnis komersial secara langsung, seperti pembiayaan ekspansi kapasitas pabrik ekspor,” tutur Erick.
Sambung dia, skema pengalokasian APBD memiliki aturan ketat terkait belanja wajib atau mandatory spending. Tandasnya, pos anggaran daerah telah terbagi secara terstruktur untuk urusan prioritas utama, seperti sektor pendidikan, kesehatan, serta pembangunan infrastruktur dan pelayanan publik di tingkat lokal.
“APBD diprioritaskan untuk pemerataan pembangunan masyarakat daerah, bukan sebagai modal investasi usaha ekspor swasta,” kata Erick lagi. (ktr/tik)
